POLA ASUH ANAK DALAM KELUARGA

        Sejak usia dini, anak harus dirawat dan dididik dengan nilai-nilai yang akan menyuburkan kesucian manusia (fitrah) agar tumbuh kokoh. Orang tua harus terus menyirami dan memberikan pupuk berupa nilai-nilai akhlak kebajikan, yaitu kejujuran, kerendahan hati, kebiasaan menolong orang lain, kebersamaan, sikap kerja keras, pantang menyerah, kemandirian, toleransi dan kedamaian, serta nilai-nilai kebajikan lainnya.

        Sebenarnya sifat-sifat buruk yang timbul dari diri anak, bukanlah lahir dari kesucian hati mereka. Sifat-sifat tersebut, terutama timbul karena kurangnya peringatan sejak dini dari orang tua dan para pendidik. Semakin dewasa usia anak semakin sulit baginya untuk meninggalkan sifat-sifat buruk.

          Masa remaja adalah suatu bagian dari proses tumbuh kembang yang berkesinambungan, yang merupakan masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa muda. Pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dalam aspek fisik, emosi, kognitif dan sosial.

          Masa ini merupakan masa yang kritis, yaitu saat untuk berjuang melepaskan ketergantungan kepada orang tua dan berusaha mencapai kemandirian sehingga dapat diterima dan diakui sebagai orang dewasa. Keberhasilan remaja melalui masa transisi ini dipengaruhi baik oleh faktor individu (biologis, kognitif, dan psikologis) maupun lingkungan (keluarga, teman sebaya dan masyarakat). Tidak sedikit remaja yang tidak mampu menjalani proses ini dengan baik, sehingga menimbulkan gejala ketidakstabilan mental, yaitu kondisi kepribadian yang tidak sesuai dengan harapan, seperti tidak tenang, sedih, cemas, pikiran kalut, kecewa yang berat/frustasi, dan trauma dalam waktu relatif lama.

          Kegagalan yang dialami setiap remaja dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dapat menyebabkan gangguan mental. Hal ini dapat terjadi pada remaja yang tidak mampu bersikap positif terhadap kegagalan yang dialami dan mengolah emosi yang terjadi pada dirinya. Gangguan mental dapat berbentuk dalam berbagai gejala, seperti tidak tenang, waswas, mudah curiga, gugup, tidak percaya diri, minder, trauma, emosional, stress, dan sukar tidur (insomnia). Beberapa penyebab gangguan mental adalah sering mengalami kegagalan, kepribadian yang lemah dan sebab yang tidak diketahui.

 

Faktor-faktor penting yang berpengaruh dalam proses pendidikan pada anak:

Secara umum ada tiga faktor penting yang berpengaruh dalam proses pendidikan terhadap anak yaitu:

A. Pola Asuh Orangtua

Untuk pola asuh ini akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian berikutnya.

B. Lingkungan

Yang termasuk dalam faktor lingkungan yaitu:

1. Pendidikan/sekolah dan teman sebaya

2. Keadaan sosial ekonomi

3. Media dan globalisasi

C. Genetik

Faktor genetik dapat berupa:

1. Biologik

2. Temperamen

3. Kehamilan/kelahiran risiko tinggi

4. Intelegensi

 

Berikut ini akan dijelaskan tentang Pola Assu secara lebih terperinci.

 

Pola Asuh Orangtua Dalam Keluarga

A. Pola Asuh Berdasar Fase Perkembangan

Pola asuh harus berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak sesuai fase perkembangannya:

  1. Mengembangkan rasa percaya/aman (sense of basic trust) yang berkembang sekitar usia sejak lahir –  1 tahun. Rasa percaya ini akan mendukung anak untuk hidup di lingkungan yang baru dengan rasa aman dan nyaman.
  2. Mengembangkan rasa otonomi diri (sense of autonomy) yang berkembang sekitar usia 1 – 3 tahun. Rasa otonomi diri ini sebagai dasar untuk berkembangnya kemauan dan menjadi diri sendiri dan keyakinan diri.
  3. Mengembangkan rasa inisiatif pada fase kritis di usia 3 – 5 tahun. Hal ini merupakan dasar untuk berkembangnya keinginan berperan dan keberanian untuk bereksperimentasi peran dalam masyarakatnya.  Tahap ini penting untuk menimbulkan keinginan dan rasa mampu berperan secara bermakna dalam masyarakat di kemudian hari.
  4. Mengembangkan rasa industri pada fase kritisnya di usia 6 – 12 tahun yang merupakan dasar untuk berkembangnya rasa kemampuan belajar, berkarya dan berdaya guna. Pada tahap ini mempunyai peran penting untuk menimbulkan keyakinan akan kemampuannya untuk berkarya dan produktif di kemudian hari.
  5. Identitas atau citra diri (sense of identity). Berkembang sekitar usia 12 – 18 tahun (sampai akhir masa remaja. Mengembangkan rasa identitas adalah tugas utama dari periode ini, yang bertepatan dengan masa pubertas dan masa remaja. Identitas didefinisikan sebagai karakteristik yang membentuk seseorang dan membawa kemana tujuan mereka. Identitas yang sehat dibangun pada keberhasilan mereka melewati stadium yang lebih awal.

Orang tua sebagai model panutan sebagai identifikasi seksual/peran gender dan peran-peran sosial lainnya. Pendidikan moral yang konsisten namun tidak kaku/dogmatis, agar anak dapat menginternalisasi nilai/norma dengan kesadaran nalar yang sehat.

 

B. Macam Pola Asuh

Secara individu, orang tua memiliki hubungan yang khas dengan anak namun para peneliti telah mengidentifikasikan 3 macam pola asuh yang umum.

  1. Pola Asuh Otoriter:

Cara pendekatan atau pengasuhan yang berciri keras, disiplin yang tinggi dan cenderung otoriter dari orangtua agar anak menjadai penurut, tertib dan tidak melawan. Pola ini ada yang bersifat tradisional berdasarkan adat istiadat dan agama. Akibatnya anak kurang mempunyai inisiatif, tidak pernah kreatif dan takut salah. Anak tidak banyak kemauan dan menerima apa adanya, bahkan anak sering merasa tertekan, akhirnya tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara wajar. Apalagi kalau sering disalahkan dan dimarahi oleh orangtuanya. Akibat yang lain, anak menjadi penakut dan mempunyai rasa rendah diri.

 

  1. Pola Asuh Permisif

Pola asuh yang bersifat lunak, anak dibiarkan oleh pendidiknya. Anak diberi kebebasan, sehingga akan tumbuh dan berkembang secara normal. Rambu-rambu yang diberikan oleh pendidik tidak terlalu banyak bahkan sedikit sekali. Anak boleh mempunyai inisiatif, mencoba dan usul sesuatu kepada pendidik. Pendidik banyak bersifat masa bodoh. Sehingga anak dalam berperilaku terdapat kesalahan karena tidak sesuai dengan norma dan nilai pendidikan. Pengawasan dari pendidik sedikit, sehingga anak merasa tidak takut, lalu bertindak atas dasar kemauan sendiri.

 

  1. Pola Asuh Demokrasi

Pola asuh yang menekankan pada pemberian kesempatan terhadap anak agar tumbuh dan berkembang secara wajar, tetapi penuh dengan pemantauan dan pengawasan. Anak diberi hak untuk mengeluarkan pendapat, usul, saran dan inisiatif, tetapi keputusan ada pada pendidi. Hak anak didengar, diharpai dan diakui karena akan mempunyai kemampuan kelebihan dan sesuatu kekhususan yang mungkin tidak dimiliki oleh pendidik. Anak mempunyai bakat tertentu yang perlu dikembangkan. Pada perkembangan selanjutnya anak akan mempunyai rasa percaya diri dan berkemauan untuk maju seingga merasa optimis dalam menyongsong hari depannya.

 

Pendidikan di Indonesia cenderung bersifat ”Tut wuri handayani”. Prinsip pendekatan ini sesuai dengan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Anak (Keputusan Presiden RI No. 36 th 1990). Pemerintah dan masyarakat wajib melindungi anak, yang dipercayakan dalam Lembaga Perlindungan Anak.

Ketiga macam pola asuh di atas semuanya dapat dilaksanakan oleh pendidik sesuai dengan situasi, kondisi, umur dan perkembangan anak, serta tujuan yang hendak dicapai. Oleh karena itu pendidik harus arif dalam memilih salah satu pola asuh yang akan dilakukan, jangan sampai salah.

Mengasuh anak adalah proses mendidik agar kepribadian anak dapat berkembang dengan baik dan ketika dewasa menjadi orang yang mandiri dan bertanggung jawab. Mengasuh anak bukanlah dimulai saat anak dapat berkomunikasi dengan baik, tetapi dilakukan sedini mungkin (sejak lahir).

C. Cara Mengasuh Anak

Cara mengasuh anak sebaiknya disesuaikan dengan tahap perkembangan anak, yaitu:

  1. Sejak lahir sampai 1 tahun

Dalam kandungan, anak hidup serba teratur, hangat dan penuh perlindungan. Setelah dilahirkan, anak sepenuhnya bergantung terutama pada ibu atau pengasuhnya. Pencapaian pada tahap ini untuk mengembangkan rasa percaya pada lingkungannya. Bilarasa percaya tak didapat, maka timbul rasa tak aman, rasa ketakutan dan kecemasan. Bayi belum bisa bercakap-cakap untuk menyampaikan keinginannya, ia menanings untuk menarik perhatian orang. Tangisannya menunjukkan bahwa bayi membutuhkan bantuan. Ibu harus belajar mengerti maksud tangisan bayi. Keadaan dimana saat bayi membutuhkan bantuan, dan mendapat respon yang sesuai akan menimbulkan rasa percaya dan aman pada bayi. ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi. Dengan pemberian ASI seorang, bayi akan didekap ke dada sehingga merasakan kehangatan tubuh ibu dan didekap ke dada sehingga merasakan kehangatan tubuh ibu dan terjalinlah hubungan kasih sayang antara bayi dan ibunya. Segala hal yang dapat mengganggu proses menyusui dalam hubungan ibu anak pada tahap ini akan menyebabkan terganggunya pembentukan rasa percaya dan rasa aman.

 

  1. Usia 1 – 3 tahun

Pada tahap ini umumnya anak sudah dapat berjalan. Ia mulai menyadari bahwa gerakan badannya dapat diatur sendiri, dikuasai dan digunakannya untuk suatu maksud. Tahap ini merupakan tahap pembentukan kepercayaan diri.

Pada tahap ini, akan tertanam dalam diri anak perasaan otonomi diri, makan sendiri, pakai baju sendiri dll. Orangtua hendaknya mendorong agar anak dapat bergerak bebas, menghargai dan meyakini kemampuannya. Usahakan anak mau bermain dengan anak yang lain untuk mengetahui aturan permainan. Hal ini jadi dasar terbentuknya rasa yakin pada diri dan harga diri di kemudian hari.

 

 

 

 

  1. Usia 3 – 6 tahun (prasekolah)

Tahap ini anak dapat meningkatkan kemampuan berbahasa dan kemampuan untuk melakukan kegiatan yang bertujuan, anak mulai memperhatikan dan beinteraksi dengan dunia sekitarnya.

Anak bersifat ingin tahu, banyak bertanya dan meniru kegiatan sekitarnya, libatkan diri dalam kegiatan bersama dan menunjukkan inisiatif untuk mengerjakan sesuatu tapi tidak mementingkan hasilnya, mulai melihat adanya perbedaan jenis kelamin kadang-kadang terpaku pada alam kelaminnya sendiri.

Pada tahap ini ayah punya peran penting bagi anak. Anak laki merasa lebih sayang pada ibunya dan anak perempuan lebih sayang pada ayhnya. Melalui peristiwa ini anak dapat mengalami perasaan sayang, benci, iri hati, bersaing, memiliki, dll. Ia dapat pula mengalami perasaan takut dan cemas. Pada masa ini, kerjasama ayah-ibu amat penting artinya.

 

  1. Usia 6 – 12 tahun

Pada usia ini teman sangat penting dan ketrampilan sosial mereka semakin berkembang. Hubungan mereka menjadi lebih baik dalam berteman, mereka juga mudah untuk mendekati teman baru dan menjaga hubungan pertemanan yang sudah ada.

Pada usia ini mereka juga menyukai kegiatan kelompok dan petualangan, keadaan ini terjai karenaterbentuknya identifikasi peran dan keberanian untuk mengambil risiko. Orang tua perlu membimbing mereka agar mereka memahami kemampuan mereka yang sebenarnya dan tidak melakukan tindakan yang berbahaya.

Anak pada usia ini mulai tertarik dengan masalah seks dan bayi, sehingga orang tua perlu untuk memberikan informasi yang dianggap sensitive ini secara benar.

Dalam perkembangan ketrampilan mentalnya, mereka dapat mempertahankan ketertarikannya dalam waktu yang lama dan kemampuan menulis mereka baik. Anak pada usia ini seringkali senang membaca buku ilmu pengetahuan dan komputer. Mereka menikmati mencari dan menemukan informasi yang menarik minat mereka.

Anak mulai melawan orang tuanya, mereka menjadi suka berargumentasi dan tidak suka melakukan pekerjaan rumah. Orang tua perlu secara bijaksana menjelaskan pada mereka tugas dan tanggung jawabnya. Keberhasilan pada masa kanak akan terlihat jika mereka dapat berkarya dan produktif dikemudian hari.

 

  1. Usia 12 – 18 tahun

Masa remaja bervariasi pada setiap anak, tapi pada umumnya berlangsung antara usia 11 samapi 18 tahun. Di dalam masa remaja pembentukan identitas diri merupakan salah satu tugas utama, sehingga saat masa remaja selesai sudah terbentuk identitas diri yang mantap.

Pertanyaan yang sering pada masa remaja saat pembentukan identitas diri adalah: siapakah saya? Serta: kemanakah arah hidup saya? Jika masa remaja telah berakhir dan pertanyaan itu tidak dapat dijawab dan diselesaikan dengan baik, dapat terjadi apa yang dinamaka ”krisis identitas”. Pada krisis identitas dapat menimbulkan kebingungan atau kekacauan identitas dirinya. Unsur-unsur yang memegang peran penting dalam pembentukan identitas diri adalah pembentukan suatu rasa kemandirian, peran seksual, identifikasi gender dan peran sosial serta perilaku

Berkembangnya masa remaja terlihat saat ia mulai mengambil berbagai macam nilai-nilai etik, baik dari orang tua, remaja lain dan ia menggabungkannya menjadi suatu sistem nilai dari dirinya sendiri.

Pada masa remaja, rumah merupakan landasan dasar, sedangkan dunianya adalah sekolah maka bagi remaja hubungan yang paling penting selain dengan keluarganya adalah dengan teman sebaya. Pengertian dari rumah sebagai landasan dasar adalah, anak dalam kehidupan sehari-hari tampaknya ia seolah-olah sangat bergantung kepada teman sebayanya, tapi sebenarnya ia sangat membutuhkan dukungan dari orang tuanya yang sekaligus harus berfungsi sebagai pelindung disaat ia mengalami krisis, baik dalam dirinya atau karena faktor luar. Pada masa ini penting sekali sikap keluarga yang dapat berempati, mengerti, mendukung dan dapat bersikap komunikatif dua arah dengan sang remaja dalam pembentukan identitas diri remaja itu.

Dengan berakhirnya masa remaja dan memasuki usia dewasa, terbentuklah dalam suatu identitas diri. Keberhasilan yang diperoleh atau kegagalan yang dialami dalam proses pencapaian kemandirian merupakan pengaruh dari fase-fase perkembangan sebelumnya. Kegagalan keluarga dalam memberikan bantuan/dukungan itu secara memadai, akan berakibat dalam ketidakmampuan anak untuk mengatur dan mengendalikan kehidupan emosinya. Sedangkan keberhasilan keluarga dalam pembentukan remaja telah mengambil nilai –nilai etik dari orang tua dan agama, ia mengambil nilai-nilai apa yang baik bagi dia dan masyarakt at pada umumnya. Jadi penting bagi orang tua untuk memberi teladan yang baik bagi remaja, dan bukan hanya menuntut berperilaku baik, tapi orang tua sendiri tidak berbuat demikian.

 

Adalah penting bagi orang tua untuk memahami proses perkembangan psikososial anaknya agar  dapat memahami dan mau mengubah pola asuhnya. Oleh karena itu  diperlukan:

* Kemampuan nalar yang memadai

* Kepribadian orang tua yang fleksibel dan mau mengubah diri

* Keharmonisan perkawinan dan kehidupan berkeluarga

* Kepatuhan dan disiplin

 

 

Kesimpulan

          Dari apa yang telah dikemukakan diatas, pola asuh sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian anak.  Anak akan menjadi lebih bahagia, mandiri, mampu mengatasi stress, memiliki keterampilan sosial dan mempunyai kepercayaan diri yang baik melalui pola asuh yang tepat dan baik.

          Dengan tercapainya kepribadian yang kuat, menjadikan anak dan remaja siap menghadapi pengaruh lingkungan dan mengambil nilai-nilai etik yang positif sehingga anak dan remaja mampu produktif dan didasari oleh keperibadian yang sehat (kemampuan remaja untuk bertahan terhadap pengaruh negatif lingkungan). Kepribadian yang sehat ini dapat mencegah timbulnya berbagai maslah psikososial pada dirinya, antara lain masalah seks bebas, penyalahgunaan zat dan obat terlarang.      

 

——————— 

Tentang toetshare

Dengan latar belakang pendidikan psikologi, ilmu pendidikan (pendidikan kecakapan hidup) dan pengetahuan kesehatan (UKS), saya ingin berbagi tentang manfaat hidup dan bahwa hidup itu indah.... :)
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s