Kiat Menghadapi Stress

Akhir-akhir ini seringkali kita saksikan di layar kaca, atau membaca berita di media cetak atau mendengar kisah nyata anak atau remaja yang mengakhiri hidupnya dengan meminum obat serangga cair, gantung diri dan sebagainya. Yang melatar belakangi dari usaha bunuh diri tersebut hanyalah masalah sepele menurut orang yang normal pada umumnya, namun bagi anak tersebut sudah merupakan beban yang amat berat. Misalnya karena berebut remote control pesawat televisi dengan kakak, tidak mampu membayar iuran sekolah, atau  tidak mampu hidup konsumtif seperti teman-temannya.

 Melihat kenyataan seperti ini, tampaknya dapat disimpulkan bahwa anak-anak atau remaja kita saat ini memiliki pribadi yang rapuh dan mudah putus asa. Mereka tidak mampu menghadapi tekanan-tekanan hidup yang kecil sekalipun. Oleh karena itu, perlu diperkenalkan kepada remaja tentang apa itu tekanan hidup (stress) serta bagaimana  mengatasi tekanan-tekanan tersebut.

 Menurut Vincent Cornelli, seorang psikolog ternama, stress merupakan suatu gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, serta dipengaruhi oleh lingkungan maupun penampilan individu dalam lingkungan tersebut (Imam Masbukin, 2005, hal.10). Selanjutnya dijelaskan bahwa, secara spesifik Richard Lazarus, menganggap stress sebagai sebuah gejala yang timbul akibat adanya kesenjangan (gap) antara keinginan dan kenyataan, antara tantangan dan kemampuan, antara peluang dan potensi.. Stress juga didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana individu terganggu keseimbangannya. Stress terjadi akibat adanya situasi dari luar ataupun dari dalam diri yang memunculkan gangguan, dan menuntut seseorang untuk berespon secara sesuai.

 Dari segi ilmu kedokteran, Hans Selye (1950) memberikan pengertian stress sebagai respons tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Misalnya bagaimana respons tubuh seseorang manakala yang bersangkutan mengalami beban pekerjaan yang berlebihan. Bila ia sanggup mengatasinya artinya tidak ada gangguan pada fungsi organ tubuh, maka dikatakan yang bersangkutan tidak mengalami stress. Tetapi sebaliknya bila ternyata ia mengalami gangguan pada satu atau lebioh organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalani fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut mengalami distress.  ( Prof. Dr. dr. Dadang Hawari, 2004, halaman 17)

 

Peristiwa atau kejadian di sekitar kita baru akan dialami atau dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interpretasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, bukan karena peristiwanya itu sendiri. Jadi lingkungan hanya memberikan tuntutan (yang menimbulkan stress ), jika tuntutan tersebut dipersiapkan  atau dihayati sebagai tuntutan. Tuntutan juga tidak akan menimbulkan stress, jika tuntutan tersebut dipersepsikan sebagai tidak berarti atau tidak ada akibatnya. Menurut Woolfolk dan Richardson (1979), stress adalah suatu (persepsi) cara pandang dari ancaman atau suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan, yang menggerakkan, menyiagakan atau membuat aktif organisme. Jadi, stress bukan terletak di luar diri atau di lingkungan kita, melainkan terletak di dalam diri kita sendiri.

 Pada dasarnya stress merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, bahkan seperti merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri. Setiap hari kita harus tergesa-gesa bangun, membereskan pekerjaan rumah, kadang sampai lupa atau tidak sempat sarapan, lari mengejar kendaraan umum untuk ke sekolah atau menjalani aktivitas, berkonflik dengan teman atau orang lain, kehabisan uang padahal harus membeli keperluan harian, dan seterusnya. Semua kejadian ini dapat memunculkan stress.

 Banyak  orang beranggapan bahwa stress adalah sesuatu yang buruk. Padahal sebenarnya kita dapat memanfaatkannya, karena stress dapat mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Meski cukup sering mengganggu, stress tidak perlu selalu dilihat sebagai hal negatif. Tidak semua stress dipandang sebagai negatif. Stress dalam kadar yang ringan justru diperlukan untuk memberikan semangat hidup dan dorongan untuk berprestasi lebih baik.  Dalam hal-hal tertentu, stress memiliki dampak positif.  Stress yang memiliki dampak positif disebut sebagai Eustress. Eustress adalah stress dalam arti positif, yakni keadaan yang dapat memotivasi, dan berdampak menguntungkan. Sebagai contoh, ada orang-orang yang bila sudah terdesak waktu, tiba-tiba terbangkitkan kreativitasnya. Ada pula yang karena merasa tertinggal, memotivasi diri sendiri dan dapat berprestasi gemilang. Jadi stress tidak perlu dihilangkan bahkan tidak perlu ditakuti. Yang perlu diwaspadai adalah stress berat yang berlangsung lama atau tidak mampu dikendalikan.

 

Gejala Stress

Stress dapat dikenali melalui tampilan dari berbagai gejala, seperti meningkatnya kegelisahan, ketegangan dan kecemasan; dihayatinya sakit fisik (sakit kepala, mulas, gatal-gatal, diare); adanya kelelahan, ketegangan otot, gangguan tidur, atau meningkatnya tekanan darah dan detak jantung. Stress juga dapat tampil dalam perubahan pada perilaku: seseorang jadi tidak sabar, lebih cepat marah, menarik diri, atau menampilkan perubahan pola makan. Sebagian orang merasa frustrasi, tak berdaya, menjadi lesu dan memiliki penilaian diri rendah.

 Untuk dapat mengelola stress, kita perlu mengenali gejala-gejalanya sedini mungkin. Hal-hal yang perlu dikenali adalah sebagai berikut:

1. Perilaku/tindakan (menurunnya kegairahan/semangat, pemakaian obat penenang atau minuman penambah vitalitas yang berlebihan, meningkatnya konsumsi kopi, penggunaan kekerasan atau tindakan agresif pada keluarga atau lainnya, gangguan pada kebiasaan makan, gangguan tidur, problem seksual, kecenderungan menyendiri, membolos, tidak waspada).

2. Proses sikap/pikiran (pemikiran irasional dan kesimpulan bodoh, lamban dalam pengambilan keputusan atau kesimpulan, kecenderungan lupa dan penurunan daya ingat, kesulitan berkonsentrasi, kehilangan perspektif, berpikir fatalis, negatif, apatis, cuek dan serba skeptis, menyalahkan diri, pikiran selalu was-was dan perasaan kacau, bingung, dan putus asa).

3. Emosi/perasaan (cepat marah dan murung, cemas/takut/panik, emosional dan sentimentil berlebihan, tertawa gelisah, merasa tak berdaya, selalu mengkritik diri sendiri dan orang lain secara berlebihan, pasif, depresi/sedih berkepanjangan atau sangat mendalam dan merasa diabaikan).

4. Fisik/fisiologis (sakit kepala dan sakit lainnya pada kepala, leher, dada, punggung dan lain-lain, jantung berdebar, diare/konstipasi/gangguan buang air besar, gatal-gatal, nyeri pada rahang dan gigi gemeretak, kerongkongan kering, pusing kepala, sering buang air kecil dan perubahan pola makan, badan berkeringat tidak wajar)

 

Kiat Menghadapi Stress

Pada dasarnya stress dapat dikendalikan, tergantung pada kemauan diri individu itu sendiri. Dalam bukunya Imam Busbikin menganjurkan agar kita selalu membiasakan bersikap FARPS  yaitu sebuah istilah dalam manajemen kepribadian. FARPS adalah kepanjangan dari Fleksibel yaitu tidak hanya menggunakan satu sudut pandang saja dalam melihat berbagai kejadian dan peristiwa, Adaptif yaitu terbuka secara selektif, Rasional  yaitu gabungan argumentatif antara realisme dan idealisme, Positif yaitu itikad, niat dan tekad kuat dan baik disertai keyakinan, dan Solusi yaitu tidak suka meratap dan mengeluh tetapi mencari jalan keluar yang terbaik.

 

Ada 3 macam ancangan untuk menghadapi stress yaitu:

1. Memanipulasi lingkungan

Lingkungan yang kita persepsikan sebagai suatu ancaman, suatu yang merugiokan, kita usahakan untuk berubah. Misalnya ruang kuliah yang panas dimanipulasi dengan memasang air condition (AC); ruangan yang penerangannya kurang baik, diganti menjadi berpenerangan lebih baik. Upaya memanipulasi lingkungan ini ada yang mudah dan ada pula yang sukar. Yang sukar misalnya mengubah sifat atau kepribadian orang lain.

2. Mengubah Persepsi

Dalam keadaan tertentu, stress yang kita rasakan dapat dihilangkan jika kita mengubah persepsi terhadap kejadian yang menimbulkan stress. Pada kejadian yang kita nilai negatif, diusahakan untuk melihat hikmahnya. Sering, timbul stress dalam diri kita kalau kita melihat orang lain melakukan suatu perbuatan yang seharusnya tidak boleh ia lakukan. Kita menjadai jengkel, karena ingin orang lain berperilaku sesuai dengan keinginan kita. Berperilaku moralistik adalah berbeda dengan memaksa orang lain untuk berperilaku moralistik. Dengan melihat perbedaan ini kita akan berbeda mempersepsikan perilaku orang lain yang melanggar peraturan

 

3. Meningkatkan Daya Tahan terhadap Stress

Beberapa teknik dan kebiasaan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap stress adalah:

a. meditasi

b. berzikir (melafalkan/mengingat kebesaran tuhan dalam hati)

c. latihan jasmani (berolahraga)

d. memakan makanan yang bergizi

e. melatih kesabaran (bagi muslim melalui sholat, puasa, zakat dan haji).

 

—————————–

 

 

Tentang toetshare

Dengan latar belakang pendidikan psikologi, ilmu pendidikan (pendidikan kecakapan hidup) dan pengetahuan kesehatan (UKS), saya ingin berbagi tentang manfaat hidup dan bahwa hidup itu indah.... :)
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s